"Mareh Ngakan?" — Sapaan Kecil yang Menenangkan Hati

Opini & Artikel 13 Oct 2026 13:35 • 2 min read • 71 views • By Udin Syam
"Mareh Ngakan?" — Sapaan Kecil yang Menenangkan Hati
Oleh : SYAMSUDIN NABILAH*

PERNAHKAH saudara ditanyai pertanyaan sederhana "Mareh Ngakan?" atau dalam bahasa Jawa halus "Sampun Dahar?" Secara harfiah artinya sederhana,  "Sudah makan?" Namun di balik kalimat pendek itu tersimpan makna yang begitu dalam dan hangat, melekat pada budaya masyarakat Madura maupun Jawa sejak dulu.

Kalimat itu bukan sekadar pertanyaan rutin. Ia adalah bentuk perhatian yang tulus. Ketika seseorang bertanya apakah kita sudah makan, sebenarnya dia sedang berkata "Saya peduli padamu. Aku ingin kau kuat, sehat, dan baik-baik saja." Di dalamnya terselip harapan agar kita tidak membiarkan perut kosong mengganggu ketenangan jiwa.

Ada keputusan lama yang hidup di tengah masyarakat kita, bahwa orang yang lapar cenderung mudah gelisah, cepat emosi, dan pikiran kurang jernih. Perut yang belum terisi membuat tubuh terasa lemas, semangat melemah, dan kesabaran pun ikut melemah. Saat itulah kita sering kali menjadi kurang sabar dalam berbicara, mudah berbohong, dan sulit melihat masalah dengan kepala dingin. Maka, mengajak makan adalah juga mengajak orang lain untuk tenang, berpikir jernih, dan menata perasaan.

Sering kali kita melihat seseorang berbicara dengan nada agak tinggi, terlihat tidak nyaman, atau pendapatnya terasa kurang terkendali. Alih-alih membalas dengan amarah, orang bijak di tengah kita akan tersenyum dan bertanya "Mareh ngakan belum? Yuk makan dulu." Itu bukan sekadar candaan atau pengalihan topik. Itu adalah sindiran halus sekaligus kepedulian yang mendalam. Seakan berkata "Tenanglah kawan. Makan dulu, setelah kenyang hati akan lebih lapang, pikiran akan lebih jernih, dan kita bisa berbicara dengan lebih baik."

Di zaman yang serba cepat dan penuh ketegangan ini, sapaan sederhana itu terasa semakin berharga. Kita tidak selalu harus setuju dengan pendapat orang lain, tetapi kita selalu bisa peduli pada kesejahteraan mereka. Mengajak makan, menanyakan kabar lewat perut, adalah cara sederhana mengingatkan sesama, bahwa kita ini saudara, bukan lawan. Jadi, jika nanti ada teman, tetangga, atau bahkan lawan bicara kita terlihat sedang tidak tenang, cobalah bertanya dengan senyum hangat "Belum makan ya? Yuk, mari makan dulu, bersama-sama."

Siapa tahu, perut yang kenyang akan membawa hati yang damai. Dan dari ketenangan itulah segala urusan bisa diselesaikan dengan lebih bijaksana.

Akhiron, penulis menutup tulisan dengan nada bertanya, Mareh Ngakan, lur? Semoga. 

Penulis : Alumni Ponpes Annuqayah Guluk-guluk Sumenep. Mantan Ketum HMI Cabang Jember Komisariat Sastra Unej.Jurnalis.


Komentar (1)

Baijuri
Jl. Payudan Timur 12 Kota sumenep
13 Oct 2026 14:53

Super mantap kawan....