Kemenangan di Lapangan, Kapan Kemenangan Rakyat Datang?

Opini & Artikel 06 Oct 2026 08:09 • 3 min read • 61 views • By Udin Syam
Kemenangan di Lapangan, Kapan Kemenangan Rakyat Datang?
Foto llustrasi : Syamsudin Nabilah

SEPAK bola bukan sekadar permainan mengoper bola ke gawang. Ia adalah bahasa universal yang mampu menyatukan siapa saja—tanpa memandang kaya atau miskin, berpendidikan atau tidak, dari mana asal dan apa keyakinannya. Ketika Timnas Indonesia akhirnya mengangkat trofi FIFA ASEAN Cup 2026 setelah perjuangan luar biasa melawan Thailand—bangkit dari ketertinggalan, bertahan lebih dari 120 menit, lalu menaklukkan lawan lewat adu penalti—seluruh bangsa seolah menyatu dalam satu harapan. Rasa bangga meluap dari rumah ke rumah, menyatukan perbedaan yang terkadang terasa tajam dalam kehidupan sehari-hari.

Kita pantas untuk meraih tangan. Skuad Garuda berjuang mati-mati, tak menyerah meski peluangnya tampak nyaris hilang. Itu semangat yang patut diacungi jempol. Di layar kaca, semua sama-sama menampilkan Sorai, menampilkan mereka yang hidup berkecukupan, maupun mereka yang setiap hari berjuang agar keluarga tetap makan. Namun dibalik sorak itu, ada perbedaan yang tak terucapkan.

Bagi mereka yang berada di zona nyaman, yang tidak terlalu cemas soal apa yang akan dimakan besok. Kegembiraan ini terasa panjang dan tenang. Mereka bisa menikmati kemenangan ini tanpa dibayangi beban berat. Tetapi bagi mereka yang hidup di garis kemiskinan, yang penghasilannya belum cukup untuk menutupi segala kebutuhan, kebahagiaan itu terasa singkat. Sorak belum reda, pikiran sudah melayang kembali "dari mana sangu anak-anak sekolah besok?" Bagaimana cara memenuhi kebutuhan sehari-hari yang kian terasa berat? Kegembiraan itu hanya sebentar, lalu kembali kekhawatiran akan nasib yang belum membaik.

PELUIT AKHIR BERBUNYI, SORAK SORAI PERLAHAN MEREDA, LALU APA?

Buruh tani kembali ke sawah, membasuh keringat demi sesuap nasi. Guru kembali ke ruang kelas, berjuang di tengah keterbatasan. Kuli bangunan kembali berpanas dan berdebu, menafkahi keluarga dengan tenaga sendiri. Mereka bergembira sebentar, lalu kembali berjuang—bukan melawan tim sepak bola lain, melawan kenyataan hidup yang tak selalu bersahabat.

Presiden, menteri, pengurus PSSI—boleh saja merayakan kemenangan ini. Boleh saja bersyukur dan berpesta. Namun biarlah kebahagiaan itu sewajarnya saja. Jangan berlebihan. Sebab apa pun yang terlalu melampaui batas, tak akan membawa kebaikan. Kemenangan sungguh menakjubkan, namun belum cukup jika rakyat belum menang dalam kehidupan nyata.

KITA MEMBUTUHKAN KEMENANGAN YANG LEBIH BESAR DARI SEKEDAR MENGANGKAT TROFI 

Kita ingin rakyat menang dari kemiskinan—agar tak ada lagi yang cemas saat sakit karena negara menjamin pengobatan. Kita ingin anak-anak negeri menang dari berinvestasi—agar pendidikan sampai ke pelosok, hingga ke perguruan tinggi tanpa hambatan biaya. Kita ingin para pencari kerja menang dari kemiskinan—agar ada lapangan kerja yang layak, pengampunan, dan mampu menafkahi keluarga. Kita ingin menang dari ketidakadilan dan korupsi—agar harta negeri tak digerogoti segelintir orang, melainkan kembali untuk kemakmuran semua. Kita ingin menang dari keresahan hidup—agar toleransi terjaga, keamanan terjamin, dan setiap warga merasa aman serta dihargai tanpa rasa takut.

Kemenangan sepak bola adalah kebanggaan. Tetapi kemakmuran, keadilan, dan kesejahteraan rakyatlah kemenangan sejati yang sesungguhnya abadi.

Semangat yang ditunjukkan para pemain—tak mudah menyerah, bangkit saat bertahan, berjuang sampai titik terakhir—itulah semangat yang harus ditunjukkan para pemimpin negeri. Bukan hanya saat pertandingan berlangsung, melainkan setiap hari, dalam nasib mengurus rakyat.

Kemenangan di lapangan sudah diraih. Kini, kami menantikan kemenangan yang sesungguhnya: ketika setiap rakyat Indonesia bisa tersenyum lebar, bukan hanya saat timnas menang, melainkan saat hidup mereka dan keluarga pun menang. 

Penulis: Syamsudin Nabilah - Pecinta Sepak Bola. Alumni Ponpes Annuqayah Guluk-guluk Sumenep. Mantan Ketum HMI Cabang Jember Komsas Unej dan Jurnalis 


 

 




Komentar (0)

Belum ada komentar.