Di Balik Pelantikan Sarmuji, Bukan Sekadar Menjalankan Melainkan Mengubah

Opini & Artikel 03 Oct 2026 23:00 • 4 min read • 165 views • By Udin Syam
Di Balik Pelantikan Sarmuji, Bukan Sekadar Menjalankan Melainkan Mengubah
Oleh : SYAMSUDIN NABILAH*

PELANTIKAN Muhammad Sarmuji sebagai Menteri Perindustrian Republik Indonesia adalah sebuah amanah yang tidak ringan. Latar belakangnya yang panjang di organisasi—mulai dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), anggota DPR RI, Ketua DPD Golkar Jawa Timur, Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar, hingga Ketua Umum KAUJE (Keluarga Alumni Universitas Jember)—memang membuktikan kematangan pengalaman dan jaringan yang luas.

Di sisi lain, gaya hidup yang sederhana seperti tetap berbelanja ke pasar, memasak sendiri, lebih suka pulang ke rumah daripada menginap di hotel setelah acara, menolak penghormatan berlebihan, adalah modal karakter yang patut diapresiasi. Namun, semua itu belum cukup menjadi jaminan keberhasilan jika tidak diwujudkan dalam kerja nyata yang mengubah wajah perindustrian nasional.

Ada pandangan dari Ken Bimo Sultoni, Peneliti Bidang Politik dan Keamanan Sigma Research and Consulting (JatimUPdate.id) yang menyebut Sarmuji tidak perlu terbebani target 100 hari.

Pendapat ini boleh saja diucapkan sebagai penenang, tetapi jangan sampai dijadikan alasan untuk melambat atau sekadar "mengikuti arus". Justru, masa awal jabatan adalah waktu paling krusial untuk meletakkan fondasi perubahan. Rakyat tidak menunggu janji manis, mereka menunggu bukti.

Tugas pertama dan paling mendesak adalah menciptakan lapangan kerja nyata melalui pengembangan industri. Sektor perindustrian adalah urat nadi perekonomian. Jika industri bergerak, peluang kerja terbuka, daya beli masyarakat naik, kesejahteraan tercapai.

Kanda Sarmuji harus mampu merumuskan kebijakan yang tidak hanya menguntungkan pengusaha besar, tetapi juga memberdayakan industri kecil dan menengah di berbagai daerah—termasuk di Jawa Timur, terutama di daerah-daerah yang selama ini tertinggal. Ia harus memastikan industri dalam negeri mampu bersaing, tidak hanya bertahan dari serbuan barang impor ilegal, namun mampu melompat ke kualitas dan menambah nilai yang lebih tinggi. Tanpa kerja yang meluas, semua kebijakan lapangan lainnya hanyalah kata-kata indah di atas kertas.

Kedua , menata kembali rumah sendiri—Kementerian Perindustrian. Lembaga ini harus dibersihkan dan dijauhkan dari praktik culas, pungli, dan korupsi yang selama ini menjadi penyakit kronis di banyak instansi pemerintah. Tidak boleh ada lagi ruang bagi pejabat yang mengutamakan kepentingan pribadi atau kelompok di atas kepentingan bangsa.

Kanda Sarmuji harus berani memilah dan menata personil. Yang mampu, jujur, dan profesional tetap diberi ruang berkarya. Yang sekadar numpang nama atau mencari keuntungan pribadi harus digeser. Kementerian yang bersih, rapi, dan profesional akan melahirkan kebijakan yang sehat dan adil.

Ketiga , jangan membuat laporan ABS ( Asal Bapak Senang). Ini adalah penyakit kronis yang merusak kepercayaan rakyat terhadap pemerintah. Banyak pejabat yang sibuk menyusun laporan indah, penuh angka yang dibesar-besarkan, dan pencapaian yang direkayasa hanya agar atasan senang—padahal di lapangan tidak ada perubahan nyata.

Kanda Sarmuji harus berani jujur ​​kepada Presiden, bahkan ketika kebenaran itu pahit. Qulil Haq walau Kaana Murron (sampaikan kebenaran meskipun terasa berat). Laporan yang jujur, terbuka, dan berdasarkan fakta adalah dasar kebijakan yang benar. Jika tidak, kita hanya akan berjalan di tempat, atau bahkan mundur tanpa sadar.

Kehadiran Kanda Sarmuji di kursi Menperin diharapkan membawa lompatan besar, bukan sekadar mengubah orang. Rakyat mempunyai visi yang berani: memperkuat industri nasional, menekan angka kemiskinan, mendorong inovasi, menjaga keadilan ekonomi, dan memastikan setiap kebijakan menyentuh kehidupan masyarakat luas.

Jaringan yang dimilikinya—baik di dunia politik maupun di kalangan alumni melalui KAUJE atau alumni HMI se In di Indonesia—bukan untuk memperindah daftar kenalan, melainkan dimanfaatkan sebaik-baiknya demi kemajuan industri dan kesejahteraan rakyat.

Sederhananya, rakyat tidak membutuhkan menteri yang hanya pandai bersilaturahmi, tampil baik di berita, atau menyenangkan atasan. Rakyat membutuhkan menteri yang bekerja, berani, jujur, dan yang menghasilkan perubahan nyata. Kanda Sarmuji punya modal ini dan memiliki kesempatan emas ini. Semoga ia tidak menyia-nyiakannya. Selamat bertugas, dan buktikan bahwa amanah ini dijalankan bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk bangsa dan negara. Bangga padamu Kanda.

*)Penulis: Syamsudin Nabilah Mantan Ketum HMI Cabang Jember Komisariat Sastra Universitas Jember (Unej). Alumni Ponpes Annuqayah Guluk-guluk Sumenep. Jurnalis.

 

Komentar (0)

Belum ada komentar.