Tepuk Tangan Dibalik Fakta "MBG"
SPANYOL juara. Negaranya tersenyum bahagia. Argentina berurai mata. Masyarakatnya diterpa duka lara. Paling tidak, potret peristiwa dua tim kesebelasan itu menjadi headline berita. Setelahnya lewat begitu saja. Matador Spanyol mampu menaklukkan banteng Argentina. Saat final 2026 Piala FIFA, sontak dunia terbagi dua. Representasi Argentina dan pendukung lawannya. Digelar di stadion New Jersey – Amerika. Sebuah pencapaian kasat mata dua negara. Sungguh luar biasa. Mata dunia tertuju pada mereka. Yel-yel dua seteru terus menggelora. Teriak menggantung asa tidak saja berlangsung di tempat acara. Ekspresi heroik fanatis benar-benar menggila. Merata hampir di semua pelosok negara. Dari lingkungan rukun tetangga, alon-alon kota hingga cafetaria.
Sepak bola memang bukan tontotan biasa. Apalagi lingkup piala dunia. Sementara orang menikmati sebatas ikut tetangga. Sebagian tertarik karena pasang taruhan dengan sesama. Sisi lain khalayak terhisap karena larut euforia. Ada juga sekedar to show seolah pengamat bola. Memamerkan pemahaman tak ubahnya mantan atlit kesebelasan Eropa. Bicara rule permainan berasa setara dengan Pierlugi Carollina. Memposisikan diri leading dalam lalulintas GWA. Bahkan mengestimasi hasil pertandingan melebihi dukun Afrika. Sepak bola ternyata mampu mengeksplorasi psikologi manusia.
*TEPUK TANGAN*
Lepas dari beragam ulasan, sepak bola pada prinsipnya menyimpan kesan. Tidak sebatas peristiwa 4 tahunan. Ada pesan di balik gelora tepuk tangan. Tepuk tangan adalah tindakan kedua tangan. Saling ditabrakkan dengan tekanan. Meledakkan gelembung udara kecil di antara telapak tangan. Menghasilkan suara khas yang terus berulang. Tepuk tangan merupakan ekspresi kejiwaan. Mewakili bentuk fisik sebagai wujud kegembiraan. Cermin kesetiaan yang tak mudah dihalangi berbagai godaan.
Tepuk tangan juga ekspresi aklamasi. Menyatukan siapapun yang terafiliasi. Pendukung Spanyol atau Argentina, bertepuk tangan adalah Hak Asasi. Tidak ada satupun aturan menghalangi. Tepuk tangan menyatukan manusia dalam momentum aksi. Mengikat emosi kolektif berbasis orientasi.
Di stadion New Jersey Amerika, tepuk tangan merupakan manifestasi kejujuran. Ribuan orang dalam diametral dua tim kesebalasan. Memiliki tujuan saling berseberangan. Kalah atau menang. Mereka bertepuk tangan spontan. Tanpa perintah atau ancaman hukuman. Riuh tepuk tangan tak lebih sebagai panggilan karena magnit keadaan. Sarat kejujuran dan bebas ditampakkan. Tak perlu influencer apalagi banner yang dipasang mengotori jalanan.
KOMODITAS
Sejak Kaisar Heraclius (Romawi) berkuasa, tepuk tangan menjadi komoditas tradisi kekaisaran. Kaisar sengaja menyewa penonton untuk bertepuk tangan. Dengan harapan menanamkan tekanan guna mengintimidasi pihak lawan. Terutama untuk menghadapi raja bar-bar sebagai penaklukan. Kenyataan demikian dilakukan saat terjadi pertemuan. Cara serupa juga pernah digunakan oleh Kaisar Nero guna merekayasa dukungan. Tak kurang dari lima ribu orang. Diperintah untuk bertepuk tangan sebagai ilusi acara kerajaan.
Tidak berlebihan jika dikatakan, tepuk tangan adalah taktik. Bagian dari strategi politik. Realitas demikian terus berkembang dalam beragam ranah bahkan dirawat menjadi komoditas intrik. Manajer teater menyewa orang-orang bayaran guna membangun kesan eksotik. Pun juga di era kekinian. Tiap acara hiburan, produser selalu menyewa penonton bayaran. Dibayar sekedar tertawa dan tepuk tangan. Masyarakat pertelevisian pada umumnya sudah paham. Tepuk tangan tengah menjadi komponen industri yang tak bisa dielakkan. Tepuk tangan sengaja diadakan agar acara dibanjiri iklan.
Ternyata di ranah politikpun juga demikian. Bukan dulu, tapi sekarang. Mungkin juga akan terus berlangsung tanpa berkesudahan. Tepuk tangan dikelola oleh mesin politik. Diekskusi oleh roda birokrasi. Disamarkan oleh kelompok-kelompok kepentingan. Dilakukan untuk membangun habitat seolah-olah. Manipulatif, guna membangun kesan demokrasi meskipun faktanya hanya basa-basi. Bergerak untuk mendulang citra konstitusional meskipun pada dasarnya tidak rasional.
_’...Masyarakat internasional saat ini tertuju pada satu titik : Akumulasi Perjuangan menuju Juara Piala FIFA dan serunya dinamika Menonton Bola Gokil (MBG). Di warung-warung obrolan bola ini akan terus berlangsung. Sementara engkau masih berkutat untuk menjawab persoalan muskil Makan Bergizi Gratis (MBG). Berdebat soal keracunan. Menganalisa kebocoran anggaran. Korupsi hingga mempertanyakan komposisi menu dan gizi. Sama-sama MBG, namun tidak serupa maknanya....’._
Demikian kata Abraham Maslow, menutup obrolan sembari menuntaskan sebotol Heineken dari kerumunan Nobar yang mayoritas maniak kopi. (*).